WISUDAWATI GEMMA (SERI 1): Kala Arin Berniat Membayar “Utang”

TELADAN: Fath Arina Fahma, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Jember (kiri).

 

RASANYA saya tidak ada yang terlalu wow,” kata Fath Arina Fahma, ketika ditanya mengenai latar belakangnya menghafal Alquran.

Sebagai wisudawati Quran dari Rumah Quran Mahasiswi (RQM) Al Ikhlas yang berada di bawah manajemen Gerakan Mencintai dan Memuliakan Alquran (Gemma) Ibnu Katsir (Ibka) Jember, gadis yang akrab disapa Arin ini terlihat rendah hati. Bagaimana tidak, di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Jember, dia berhasil menyelesaikan hafalan Quran 5 juz mutqin (lancar).

“Saya tidak ada back ground mondok. Tetapi, SD saya tempuh di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) di Jogja,” sambung mahasiswi angkatan 2013 ini. Karena di SDIT ada program tahfidz, lulus SD dia sebenarnya punya bekal hafalan 2 juz, yakni juz 30 dan 29.

Bahkan, pendidikan SMP dan SMA dia tempuh di sekolah negeri. Hal itu tidak lepas dari arahan orang tua untuk mengarahkannya ke sekolah negeri agar saat kuliah bisa menempuh pendidikan kedokteran.

Saat kuliah di Jember itulah, Arin merasa benar-benar hijrah. Karena itu, motivasinya menghafal Alquran lebih disebabkan ingin membayar “utang”. “Selama 6 tahun rasanya saya seperti tidak pernah pegang Quran. Lulus SD hafal 2 juz, tapi 6 tahun tidak dipakai, ya bagaimana kondisinya ya. Kayaknya 6 tahun tidak pernah ngaji. Sebab, kompetisi akademik di sekolah negeri memang ketat,” paparnya.

Hatinya tergerak untuk menghafal tidak hanya disebabkan untuk membayar “utang” selama 6 tahun tidak pegang Quran. Tetapi, Arin juga malu dengan sang adik. “Waktu saya gabung di Gemma dan masuk kelas tahfidz, adik saya waktu SMP di Darul Quran Solo sudah hafal 20 juz. Sekarang di SMA di Isykarima,” ungkapnya.

Yang unik, peserta angkatan I di RQM Al Ikhlas ini mengaku, awal menghafal Quran dirinya menempatkan kegiatan tahfidz Quran itu sebagai prioritas ke-3 dalam hidupnya. “Aduh, saya malu sebenarnya,” katanya, seraya melirik Ustadzah Siti Maryatul Kiptiyah, pengasuh RQM Al Ikhlas.

Dia mengaku, prioritas pertama dalam hidupnya adalah akademik. Yang kedua menyelesaikan amanah di sejumlah organisasi yang saat ini sedang dia pegang. Barulah yang ketiga menghafal Alquran.

Meski setiap hari memiliki kegiatan seabrek, Arin mengaku tidak sulit membagi waktu. Sebab, sejak kecil dirinya terbiasa menyusun agenda harian dengan detail. Walau kadang ada kegiatan yang waktunya bersamaan, karena berkah Quran, pada akhirnya dia merasa semua agenda hariannya bisa selesai dengan baik. “Alhamdulillah kok semua bisa jalan,” akunya.

Setiap hari, sebenarnya Arin tidak menyiapkan waktu khusus untuk menghafal. Sebab, kegiatan menghafal dan murojaah dia lakukan di Quran time di RQM Al Ikhlas. Biasanya dia melakukan hal itu mulai bakda Subuh sampai sekitar pukul 06.30. “Kuliah dan menghafal tidak berat sebenarnya. Menurut saya tergantung mind set. Karena saya sudah memilih jalan hidup saya, ya dijalani saja. Lama-lama biasa saja,” terangnya.

Dengan jujur, Arin mengaku, di awal menghafal dirinya belum bisa merasakan nikmatnya menghafal Quran. Bahkan, dirinya merasa hafalannya terlalu lambat dibanding yang lain. “Saya ini angkatan I di RQM, tapi capaiannya sama dengan adik-adik angkatan,” akunya, jujur.

Di RQM, setiap peserta ditargetkan bisa menghafal minimal setengah halaman per hari disertai pemahaman artinya. Karena itu, di RQM arti ayat harus dipahami dulu sebelum menghafal ayatnya. “Saya ini orang yang sebenarnya logis, sejak dulu suka matematika, fisika, dll. Makanya, menghafal Quran ini sebenarnya berat buat orang logis seperti saya,” tuturnya.

Di akhir periode program RQM Al Ikhlas sekarang, Arin mengaku tidak ingin meninggalkan RQM. Malah, dia bakal mendapat amanah sebagai pengelola RQM 2 yang disiapkan di Jalan Danau Toba, yang proses rekrutmen peserta tengah berjalan.

“Saya malah takut menjauh dari Quran. Kata teman-teman yang co-ass (pendidikan profesi dokter), meninggalkan shalat karena kecapekan itu sudah biasa. Kalau saya sudah tahu tantangannya co-ass yang benar-benar duniawi begitu, lalu meninggalkan RQM, kan rasanya bagaimana ya,” jawabnya, kala ditanya rencana berikutnya setelah menyelesaikan hafalan 5 juz. (bersambung)

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *