WISUDAWATI GEMMA (SERI 2): Wakil Presiden BEM Dua Periode yang Rajin Menghafal Quran

KEREN: Arifah Nur Hasanah (keempat dari kiri) menyelesaikan hafalan 5 juz dengan mutqin di RQM Al Ikhlas.

 

PENAMPILAN dan tutur katanya kalem. Tapi, soal kemampuan akademik dan menghafal Quran, Arifah Nur Hasanah ini jempolan. “Saya mulai menghafal Alquran sejak bisa baca Alquran, sekitar kelas 3 SD. Waktu itu di SD Muhammadiyah, lalu di rumah lanjut ke TPA,” katanya.

Tapi, saat itu sekadar menghafal tanpa memperhatikan tajwid. Awalnya, menghafal Alquran dilakukan karena ada perintah dari orang tua. Saat duduk di bangku SMP di Ponpes As Salam, Solo, Arifah menjalani dua tahun saja. Sebab, saat itu dia masuk kelas akselerasi. Sekolah yang mestinya 3 tahun hanya ditempuh 2 tahun.

Di As Salam, Arifah baru mulai menghafal di tahun kedua saat masuk klub tahfidz. Saat itu dia bisa menyelesaikan hafalan juz 30, walau masih menabrak-nabrak tajwid.

Lulus dari As Salam, Arifah melanjutkan sekolah ke MAN Insan Cendekia di Serpong, Tangerang. Di sekolah berkonsep asrama itu, dia tidak menghafal Alquran, melainkan hanya mengaji biasa.

Selesai dari Insan Cendekia, perempuan berkacamata itu melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian UGM Jogja. Tetapi, karena didorong orang tua kuliah di kedokteran, studi di UGM yang dilakoni setahun.

Namun, saat masuk semester 2 di UGM itulah Arifah kembali bersentuhan dengan tahfidz. Dia sempat mengikuti karantina tahfidz di pesantre mahasiswa UNS Solo di Karanganyar. “Selama 15 hari karantina, alhamdulillah selesai setoran 3 juz, walau menabrak tajwid dan tidak mutqin (lancar),” akunya.

Masuk tahun kedua di UGM, Arifah ikut seleksi masuk PTN. Akhirnya, diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Di kampus FK inilah dia bertemu dengan Arin, kakak angkatan yang lebih dulu tinggal di Rumah Quran (RQM) Al Ikhlas.

Saat itu Arifah sudah tercatat sebagai santri Gemma yang dikelola Ibnu Katsir (Ibka). Niatnya masuk ke Gemma ingin tahsin bacaan. “Ketemu Mbak Arin, saya bilang apa saya mulai hafalan lagi dari nol ya? Akhirnya, saya memutuskan masuk RQM ini,” ungkapnya.

Karena sudah pernah menghafal dan punya bekal bahasa Arab, Arifah mengaku tidak sulit mengulangi hafalan dengan tajwid yang jauh lebih baik. Bahkan, Arifah dikenal memiliki kemampuan hafalan yang bagus. Dalam setengah jam bisa menyelesaikan hafalan baru setengah halaman dengan lancar.

Tetapi, Arifah mengakui, dirinya di awal menghafal Quran di RQM agak sulit mengatur waktu. Sebab, kuliah di FK berbeda sekali dengan di pertanian, saat masih di UGM. Sebab, kuliah di FK memiliki tingkat kesulitan dan budaya yang berbeda dengan pertanian. Apalagi, selama menghuni RQM, arifah tercatat dua periode menjabat sebagai wakil presiden BEM (badan eksekutif mahasiwa) kedokteran.

Yang pasti, di akhir masa pembelajaran di RQM Al Ikhlas Desember ini, Arifah masih ingin tinggal di RQM. Dia akan melanjutkan program tahfidz di periode berikutnya. Bahkan, saat wisuda sebagai dokter dan bekerja nanti, dia akan berusaha terus menambah hafalan Quran. “Sebenarnya tinggal memegang polanya. Siang urusan studi, organisasi, atau nanti kerja, malamnya Alquran. Setelah kerja rasanya akan lebih mudah mengatur pola ini,” pungkasnya. (bersambung)

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *